Putri Balon Pt. I

Suatu siang, di sebuak kafe universitas swasta di Salatiga, aku akhirnya melihat seorang gadis yang seratus persen sempurna.

Meskipun jalannya sedikit aneh — sedikit mirip dengan cara berjalan Robocop –, dia sungguh berparas elok. Hidungnya mancung. Bibirnya yang sedikit tidak seimbang antara bagian atas dan bagian bawah, membuat senyumnya begitu menawan – bibir bagian bawahnya mirip dengan polisi tidur di sebuah perumahan, sedangkan bibir bagian atasnya setipis kardus yang biasanya digunakan sebagai tempat makanan ringan dalam sebuah acara pengajian. Saat dia tersenyum, mungkin orang-orang yang melihatnya, yang sedang murung karena tak lancar ketika mengejarkan ujian semester, lupa dengan beban yang memenuhi isi pikirannya.

Saat itu, dari jarak sekitar 10 meter aku melihatnya dan, aku tahu: dialah gadis yang seratus persen sempurna bagiku. Dadaku bergemuruh, mataku kedutan, dan bulu kudukku berdiri, seolah bersiap untuk maju perang di garis depan. Saat itu, aku jadi tampak seperti anak alay yang baru tahu sebuah penemuan hebat yang bernama “tongsis”. Apalagi saat aku melihat dia senyum kepadaku. Ingin rasanya segera menyapanya, lalu bertanya: “Bapakmu dulu sunat di mana?” atau berkata, berlagak seperti Sunardi DM dalam bukunya yang berjudul Bharatayudha, “… Kecantikan gadis di bumi ini dibagi dua, setengah untukmu, dan setengah sisanya dibagi untuk gadis-gadis lainnya.”

Mungkin kau memiliki tipe perempuan kesukaanmu, perempuan berkumis tipis, misalnya, atau berkumis tebal, berjari lentik, mempunyai telapak kaki yang berbentuk seperti sebuah kapal pesiar, atau kau tak perlu mempunyai alasan yang jelas mengapa kau begitu mengidolakan seorang gadis. Tentu saja, aku punya tipe perempuan kesukaanku sendiri. Kadang saat aku menonton sepak bola di sebuah stadion, aku selalu tersenyum ketika melihat gadis berbedak tebal. Dalam hati aku selalu berkata, “Semoga dia bukanlah seorang penjual jamu gendong.” Yang jelas, perempuan seperti itu bukan kesukaanku. Aku hanya tertarik pada gadis yang tak pernah tampak berlebihan: berlebihan lemak, berlebihan ukuran payudara, berlebihan ukuran pantat, dan berlebihan jenggot, tentu saja.

Selain senyumnya, yang aku ingat saat pertama kali aku melihat gadis itu adalah cara berjalannya yang sangat aneh, tak jauh beda dengan anak laki-laki yang habis ikut sunatan masal. Sama sekali tidak anggun. Kaki kiri dan kaki kanannya seperti malu saat berdampingan, mereka selalu tampak berjauhan saat gadis itu berjalan… Tapi, dia tetap seratus persen sempurna bagiku.

Bersambung….

Catatan: Sebagian besar tulisan ini merupakan gubahan dari cerpen Haruki Murakami yang berjudul ‘Seorang Gadis yang Seratus Persen Sempurna’.

Tentang Pernikahan (dari sebuah novel yang dibeli di toko buku bekas)

“Aku mencintai setiap senyum yang mengembang dari wajahmu. Mencintai caramu mengerutkan mata, mencintai cara jalanmu yang aneh, bahkan mencintai setiap hembusan nafasmu yang kadang tak beraturan. Namun maaf, aku sama sekali belum bisa mencintai tingkat kedewasaan berpikirmu dan kedewasaan sikapmu.

Kau tahu, menikah tidak cukup hanya dengan mencintai semua itu. Dalam sebuah pernikahan, Jika semula kamu putih dan aku hitam, maka kita harus mampu menjadi abu-abu. Kesalahanmu adalah kesalahanku, kesedihanmu adalah kesedihanku, begitu seterusnya. Ini buka lagi tentang mencintai seseorang karena wajah dan fisiknya mirip dengan Behati, Adriana Lima, atau bahkan mirip dengan Mario Bross. Menikah adalah tentang mencintai seseorang dari variasi fisiknya, isi kepalanya, isi hatinya, keluarganya, hingga segala kekurangannya.

Jika hidup adalah masalah, maka menikah adalah masalah baru. Maksudku begini, beriringan dengan bertambahnya umur seorang manusia maka bertambah pulalah masalah yang akan dihadapinya. Jika semula kita hanya harus menyelesaikan bagaimana rumitnya mengejarkan PR Matematika, seiring bertambahnya usia mungkin kita akan menghadapi orang-orang  yang seperti tak kenal lelah ketika menagih tunggakan kartu kredit.  Rumus Phytagoras kadang sudah cukup untuk menyelesaikan PR Matematika, tapi tagihan kartu kredit? Untuk menyelesaikannya kita kadang harus menggunakan cara yang dua kali lipat lebih rumit dari rumus phytagoras. Meski demikian, entah berasal dari inspirasi Jordan Belfort, curhat kepada seseorang, atau dengan cara kita sendiri. Eksekutor dari penyelesaian masalah tersebut adalah diri kita sendiri.  

Saat menikah semuanya menjadi berbeda, semua masalah – rumit atau tidak — sudah seharusnya diselesaikan secara bersama. Kita boleh berbeda pendapat, misalnya karena kamu penggemar Karl Marx dan aku penggemar Bob Marley kita mempunyai logika yang berbeda dalam menyelesaikan sebuah masalah. Namun tetap saja masalah tersebut harus dieselesaikan dengan cara kita, bukan caramu atau caraku. Eksekutornya bukan aku atau kamu, melainkan kita bersama.” Bintang-bintang yang bersinar di atas langit membuat jeda di tengah-tengah penjelasan Marie kepada Alejandro, matanya yang semula menyempit kini terbuka lebar-lebar. Bintang-bintang tersebut berhasil mencuri perhatian Marie sejenak, seolah mereka mengatakan: di tengah kesedihanmu, entah tertutup oleh awan atau tidak, aku tetap akan selalu bersinar.

 

 

Me-Mourinho

“Mourinho bukan Rinus Michels, bukan Gustav Sebes, bukan Sir Alex Ferguson, bukan Cruyff, bukan Shankly, dan bukan pula yang lain-lain. Bahkan… Mourinho bukanlah Mourinho. Mourinho adalah me-Mourinho. Mourinho mencari, dan terus menerus mencari, menuju dan menjadi Mourinho. Ya, Mourinho bukanlah Mourinho. Mourinho adalah meng-Mourinho, yang terus berproses menjadi Mourinho. Mourinho adalah Mourinho, pada saat sakratul maut!”

Parafrasa di atas saya gubah dari buku Ahmad Wahib yang berjudul  Pergolakan Pemikirian Islam.

***

Menurut Brendan Rodgers, sepak bola bukanlah ilmu pengetahuan, tetapi sepak bola adalah sebuah seni. Lalu, kenapa dia kemudian menyebut Chelsea bermain negatif dengan “memarkir dua bus langsung di depan gawang mereka”? Bukankah seharusnya dia menghargai Jose Mourinho yang, dengan cara sederhana, mampu membuat Chelsea pulang dengan membusungkan dada? Apakah seni selalu berurusan dengan sesuatu yang rumit, sehingga hal-hal yang sederhana tidak bisa dikatakan sebuah seni?

Johan Cruyff, legenda sepak bola atau seseorang yang bisa dikatakan sebagai filsuf sepak bola, pernah menjelaskan tentang dasar dari filosofinya  dalam permain yang melibatkan 22 orang ini. Dia pernah menekankan pentingnya perubahan mentalitas (dari bertahan menjadi menyerang atau sebaliknya): Seorang penyerang harus mampu menjadi pemain bertahan pertama ketika timnya kehilangan bola, dan seorang pemain harus mampu menjadi orang pertama dalam melakukan serangan. Mentalitas yang menjadi dasar filosofi Cruyff tersebut sama dengan apa yang dimiliki oleh Jose Mourinho.

Jika Cruyff mengimplementasikan mentalitas tersebut dengan pressing ketat dan penguasaan bola. Mourinho menggunakan pendekatan yang berbeda, Mourinho menggunakan mentalitas tersebut menjadi pertahanan yang rapat dan serangan balik mematikan.

Apa yang dilakukan anak asuh Mourinho ketika menghadapi Liverpool, Minggu (27/4/2014), adalah contohnya. Hampir semua pemain Chelsea ikut bertahanan. Dari Ivanovic di lini paling belakang hingga Demba Ba sebagai pemain paling depan, mereke semua ikut bertahan. Serangan Chelsea pada pertandingan tersebut selalu diawali kegagalan serangan Liverpool. Siapapun pemain Chelsea yang berhasil menggagalkan serangan Liverpool, dialah orang pertama yang memulai serangan Chelsea. Selama 90 menit, apa yang dilakukan Chelsea pada pertandingan tersebut tidak pernah mengalami perubahan.

Tiba-tiba Steven Gerrard melakukan blunder. Demba Ba berhasil mengkonversi kesalahan Gerrard tersebut menjadi sebuah gol. Gol yang diperoleh Chelsea tersebut adalah hasil dari perubahan mentalitas pemain-pemainnya; kesalahan Gerrard adalah bagian dari gagalnya serangan yang dibangun pemain-pemain Liverpool; dan Demba Ba, sebagai seorang pemain bertahan pertama berhasil memanfaatkan kesalahan Gerrard tersebut menjadi serangan balik mematikan. Jika dilihat dari pendekatan yang dilakukan Chelsea, apakah gol tersebut merupakan sebuah keberuntungan?

Dengan pendekatan yang sama, Chelsea berhasil memperoleh gol keduanya pada pertandingan tersebut. Nemanja Matic berhasil melakukan intercept, Tores berlari sendirian dan Williams berhasil membuat para penggemar Liverpool memegangi kepala mereka seolah tak percaya dengan apa yang terjadi. Apakah iya, anti-football, begitu celoteh banyak orang tentang cara bermain Chelsea pada pertandingan tersebut, membiarkan dua orang pemainnya berlari ke arah gawang lawan tanpa ada seorang pun pemain lawan yang berniat untuk mengawalnya? Dan apakah  kejadian seperti ini juga dapat dikatakan sebuah keberuntungan?

Nilai seni tidak selalu berdasarkan sesuatu yang rumit dan mewah untuk menunjukkan keindahannya. Sesuatu yang sederhana pun bisa menjadi sebuah seni. Jika sepak bola adalah seni, dengan segala kerumitan yang dibuatnya, Rodgers adalah seniman handal, tetapi jika dia kemudian tidak bisa mengapresiasi sesuatu yang sifatnya sederhanan sebagai sebuah nilai seni. Rodgers tidak pernah me-Mourinho untuk memahami nilai seni.

Menurut Diego Torres, orang yang begitu dekat dengan Mourinho ketika berada di Real Madrid. Ada beberapa pendekatan yang dilakukan Mourinho ketika timnya bermain away menyambangi tim-tim besar. Berikut ini adalah beberapa dari pendekatan tersebut:(1) Pertandingan dimenangkan oleh tim yang sedikit melakukan kesalahan; (2) Pada waktu bermain tandang, biasanya tim tuan rumah mencoba untuk tampil superior, medorong mereka untuk melakukan kesalahan adalah pilihan yang tepat; (3) Siapapun yang menguasai bola lebih banyak, merekalah yang paling rentan membuat kesalahan; (4) Sebuah tim yang menguasai bola selalu memiliki rasa takut; (5) Sebuah tim yang jarang menguasai bola akan jarang membuat kesalahan.

Pendekatan yang dilakukan Mourinho ketika bermain tandang dan menghadapi tim-tim besar di atas adalah bagian dari nilai seni yang dimiliki oleh Mourinho. Jika Rodgers mampu untuk me-Mourinho, saya yakin dia akan mengapresiasi nilai seni tersebut tidak dengan kritikan melainkan dengan pujian. Karena dengan me-Mourinho-lah sesuatu hal yang seharusnya absurd untuk dikatakan sebagai sebuah seni dapat menjadi menjadi sebuah seni yang tak ternilai harganya.

Michael Carrick yang (Mungkin) Lebih Besar  dari Timnas Inggris

 

 carrick

[Sumber: Zimbio.com]

 

Hujan adalah rezeki, begitulah mitos orang Tionghua. Jika hujan turun, tanah menjadi subur, tidak kekurangan air;  sumber daya alam melimpah untuk dikonsumsi. Dan Burn pemain belakang Fulham pun mengamininya, hujan crossing di wilayahnya membuatnya sukses melakukan 22 kali clearance ketika mereka menahan imbang tuan rumah Manchester United akhir pekan lalu.

Hidup adalah cobaan, jika tak siap menerima cobaan orang tidak akan mencapai tujuan hidupnya. Ketika crossing pertama Manchester United gagal, mereka mencoba lagi, hingga melakukannya sebanya 81 kali. Terkesan seperti pantang menyerah, padahal bagi orang pintar, itu terlihat seperti tak berakal. Mereka seperti tak mengenal pepatah kuno: Banyak jalan menuju Roma. Setiap cobaan mempunyai jalan keluar masing-masing. Apabila gagal dengan satu cara, alangkah lebih baik menggunakan cara lain. Kolot namanya jika terus memaksa.

Bukan berarti semua pemain Manchester United tak berakal, salah satu pemainnya mencoba cara lain: melakukan tembakan langsung ke gawang. Dalam pertandingan tersebut, Michael Carrick melakukan 8 kali percobaan tembakan ke gawang, 3 diantaranya tepat sasaran, dan salah satunya berhasil menghujam ke dalam gawang Fulham – pemain paling banyak melakukan tembakan dalam pertandigan tersebut. Biasanya, Carrick malu-malu dalam melakukan ini. Apa boleh bikin, dia terpaksa melakukannya karena rekan-rekannya sudah kehilangan akal. Berani mengambil risiko dengan keluar dari zona nyaman demi kelangsungan hidup timnya.

Michael Carrick bukan merupakan pemain berotot super megah. Dada Pamela Anderson masih jauh lebih besar dari dadanya. Tentu saja dia tidak pantas berada di papan reklame besar dengan hanya mengenakan celana dalam. Tetapi bila berbicara tentang otak, Carrick bisa 10 kali lebih hebat dari Pamela Anderson; atau 10 kali hebat dari model celana dalam dengan bayaran selangit.

Inggris terkenal dengan sepakbola yang lebih menggunakan hati daripada otak. Ironi kemudian berdemonstrasi: Jika Inggris lebih sering menggunakan hati, mengapa mereka tidak mempunyai hati pada pemain-pemain yang berotak ? Carrick melakukan debut untuk tim nasional pada tahun 2001, setelah 13 tahun, dia hanya bermain 31 kali untuk timnas Inggris. Dalam kurun waktu tersebut, Carrick hampir meraih segalanya bersama Manchester United. Sedangkan Inggris ? Satu piala pun enggan mendekat, apalagi berhasil digenggam.

Sebagai seorang pemain, Michael Carrick diberkahi kombinasi sempurna antara otak dan ototnya. Menariknya, eksekusi terhadapnya berwujud sederhana : Passing ketika melakukan serangan dan intersep ketika membantu pertahanan. Bagi kebanyakan orang itu adalah hal sederhana, tetapi bagi sebagian orang lainnya, itu adalah mahakarya. Menyitir pernyataan Johan Cruyff, “playing football is very simple, but playing simple football is the hardest thing there is.”

Dalam cara bermainnya, Barcelona hanya melakukan passing-passing sederhana, tetapi dari hal itulah teka-teki kemudian muncul : Kemana bola kemudian akan mengarah ? Kemana pemain itu akan melakukan pergerakan ? Di tengah keputusasaan para pemain lawan untuk mendapatkan bola, banyak tanda tanya mengisi otak mereka, seperti sebuah siksaan yang bertubi-tubi datangnya yang tidak  akan berhenti sebelum wasit mengahirinya.

Tentunya, banyak faktor dibalik kesuksesan cara bermain Barcelona. Entah kualitas passing pemain, positioning, atau koordinasi antar lininya. Yang jelas, hal ini bermula dari sebuah passing, hal paling dasar dari cara bermain sepakbola.

 

 

 

NO NAMA Avarage Passes per Game Pass Success (%)
 1 Yaya Toure 72.8 90.3
 2 David Silva 71 88.9
 3 Gareth Barry 70.9 85.9
 4 Aaron Ramsey 70.1 84.3
 5 Michael Carrick 69.6 87.3

[Peringkat pemain dengan jumlah rata-rata passing terbanyak di Premier League. Sumber: Whoscored.com]

 

Dari 5 besar pemain Premier League (sementara) dengan percobaan passing paling banyak setiap pertandingannya, Michael Carrick berada di urutan nomor 5, masih dibawa Gareth Barry yang berada di peringkat 3. Tetapi tingkat akurasi passing Carrick lebih baik dari Barry. Menurut situs whoscored.com, Everton lebih unggul dari Manchester United dalam penguasaan bola. Everton berada di peringkat 5 dengan dengan rata-rata 56.3 %, sedangkan United berada satu tingkat di bawahnya dengan rata-rata 55.5 %. Barry tentunya lebih sedikit diuntungkan dengan cara bermain yang dilakukan oleh Everton. Sedangkan Carrick, nyaris bekerja sendirian untuk memastikan bola tetap bergulir dari satu kaki pemain United ke kaki pemain United lainnya. Percayalah, ini tidak mudah dilakukan di sebuah tim yang bermain seperti sebuah tim pada abad ke-19.

Juanma Lillo pernah mengatakan bahwa “placing positioning” menjadi bagian paling penting dalam (cara) bermain sepakbola. Salah satu hal yang menonjolkan placing positioning adalah intersepsi. Tekel memang membuat penonton bersorak sorai ketika pemain melakukannya, tetapi tekel (kebanyakan) dilakukan karena pemain mengalami disposisi. Lain halnya dengan intersep, hal ini hanya dapat dilakukan oleh pemain yang mampu membaca arah permainan dengan baik, dan tentu saja placing postioning yang tepat. Sederhana, tidak perlu berjibaku, hanya membutuhkan otak yang cerdas untuk menangkap sesuatu.

 

 

 

NO NAMA Interceptions per Game
 1 Mile Jedinak 3.4
 2 Youssouf Mulumbu 3.3
 3 Michael Carrick 3.2
 4 Laurent Koscielny 3
 5 Chico 2.7

[Peringkat pemain dengan jumlah rata-rata interceptions terbanyak di Premier League. Sumber: Whoscored.com]

 

Jika kita melihat para pelaku intersepsi terbaik di Premier League musim ini, Michael Carrick berada di peringkat ketiga dengan rata-rata 3.2 kali intersep setiap pertandingan. Dari lima besar, Carrick satu-satunya pemain yang berasal dari Inggris. Rio Ferdinand pernah mengatakan bahwa semasa kecilnya, hebat tidaknya seorang bek, dinalai oleh kotor tidaknya pakaian yang dia kenakan. Jika kotor, seorang bek dapat dikatakan bermain dengan baik; jika tidak, seorang bek dapat dikatakan bermain buruk. Itulah pola pikir umum pala pelatih sepakbola anak di Inggris. Mereka seakan tidak pernah ingat, tekel-tekel yang pernah dilakukan legenda sepakbola Inggris tidak pernah mengenai kaki para pemain Hungaria ketika mereka  kalah di Wembley pada tahun 1953.

Inggris sebetulnya beruntung memiliki seorang pemain dengan kemampuan layaknya Michael Carrick, tetapi Carrick tidak beruntung karena terlahir sebagai seorang Inggris. Jika Inggris sedikit membuka hati, Carrick mampu memberikan mereka harapan di Piala Dunia 2014 nanti. Harapan menjadi juara tentu terlalu muluk bagi bangsa yang kolot, tetapi harapan bermain lebih baik adalah hal yang wajar. Dengan Inggris bermain sedikit lebih baik, orang akan ingat tentang ikrar Inggris yang sombong bahwa mereka adalah penemu sepakbola.

*tulisan ini sudah hampir setengah tahun mengendap di draft email

 

Manuel Pellegrini Sang Penjelajah Samudra yang Keras Kepala

Minggu (11/5/2014), Liga Inggris musim 2013/2014 telah usai. Persaingan 20 tim di tanah Inggris untuk menjadi yang terbaik ditutup dengan narasi indah  karya Manuel Pellegrini: Menyerang, menyerang, dan terus menyerang.

Bersama Manchester City, filosofi menyerang ala chef Pellegrini akhirnya menemukan jodohnya. Ah, bukan, bukan. Pellegrini tidak cocok untuk menjadi seorang chef. Rambutnya tidak seperti mie instan, hidungnya tidak seperti wortel, dan badannya tidak sekokoh kentang KFC.

Pellegrini lebih mirip penjelajah samudra keras kepala yang sedang mencari kejayaan. Kenapa  penjelajah samudra yang keras kepala?

Begini. Menurut hemat saya, Pellegrini sudah terlalu lama mendarat di pulau Eropa tanpa menghasilkan apa-apa. Mendarat pertama kali di Spanyol, menetap di sana beberapa tahun, dan apa hasilnya? Piala intertoto — sebuah piala yang tidak cukup untuk ditukarkan dengan celana dalam Victoria Secret dengan harga paling murah sekalipun.  

Karena tak kunjung mendapatkan kejayaan, Pellegrini kemudian sering merenung sendirian. Memikirkan apa yang salah dari dirinya, terus berpikir, terus berpikir, dan kemudian tertidur.

Pada suatu pagi, dia pergi ke pasar untuk mencari udara segar. Tanpa sengaja, dia melihat seorang pedagang yang dikelilingi banyak orang. Dengan cekatan dia kemudian berbaur dengan kerumunan tersebut. Ternyata, pedagang tersebut menjual sebuah kompas digital. Pedagang tersebut menjelaskan bahwa kompas digital  tersebut merupakan sebuah aplikasi yang dapat digunakan di dalam sebuah ponsel, baik ponsel dengan sistem operasi Android maupun IOS.

 Bersambung…

Cerita tentang Dua Orang Sahabat

Semakin banyak saya menyaksikan Serie A, semakin banyak pula saya ketahui tentang pentingnya sebuah “siasat”. Menurut saya, sepakbola Italia, merupakan tempat hiburan yang pas bagi otak, bukan mata.

Siasat yang penting di Serie A ini kemudian saya terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Hebatnya, saya melakukannya untuk menipu orang. Sahabat-sahabat saya sering terjebak siasat bodoh saya. Yang membuat saya heran : Mereka tidak merasa dijebak; kadang malah menikmati jebakan saya. Serie A ternyata lebih dari “siasat”; Serie A ternyata mengajarkan saya tentang sesuatu yang bernama “sahabat sejati”. Hebat!

Sebut saja Andre dan Hehanusa sebagai 2 orang sahabat saya, 2 orang yang paling sering saya tipu, tapi tetap menganggap saya sebagai seorang teman. Kebetulan kisah cinta mereka nyaris serupa. Lagu Croos Bottom yang berjudul 9 tahun, membuat mereka terlihat heroik di depan mata saya.

Andre sekarang bekerja di salah satu perusahaan yang bergelut di bidang finansial. Orang ini hebat, kadang mulutnya lebih cepat dari otaknya karena dagelan tak wajar selalu keluar dari mulutnya dalam waktu sesingkat-singkatnya. Kenapa hebat ? karena dia hampir selalu membuat saya tertawa hihi haha karena itu.

“Keluargaku no wis biasa gawe bahan ece-ecenan uwong”, suatu ketika Andre berkata seperti itu. Kata-kata yang mengajarkan kepada saya cara yang tepat untuk menertawakan diri sendiri. Dengan kenyataan seperti itu, tak heran kata-katanya sering ceplas-ceplos mengritik kegiatan orang-orang yang aneh dimatanya. Bukan semacam dendam, tapi semacam sarana untuk memerangi kenyataan yang kadang selalu menyakiti.

Andre bercita-cita membuka Barber Shop. Berbagai pengalam dia coba capai dalam bidang ini. Pernah saya pergi mengantarkannya ke Yogyakarta hanya untuk memangkas rambutnya. Pernah juga dia pergi ke Solo sendirian untuk melakukan hal yang sama. Skill dan teknik dia pelajari langsung dari orang yang memangkas rambutnya. Tapi sayang, untuk sementara hasilnya nihil. Do’a saya, semoga dia tidak putus asa, untuk kemudian berjualan sepatu New Balance yang sedang tenar-tenarnya.

Kenapa nihil ? pernah suatu ketika saya suruh Andre memangkas rambut saya. Saya kataka, “ potong gaya Marco Reus yo cuk”. Tanpa pikir panjang dia mulai memangkas rambut saya dan saya pun percaya pada kemampuannya. Belum genap 5 menit, kepercayaan saya meragu. Dia memangkas rambut saya dengan penuh kekerasan. Setiap alat cukur mengenai kepala saya, sakit rasanya. Kepala saya kemudia memerah, bukan karena malu, tapi karena hubungan tidak lumrah dengan alat cukurnya.

Berbarengan dengan keluarnya barongan pada Reog yang kebetulan sedang main di depan rumah saya, selesai sudah Andre memangkas rambut saya. Dalam waktu yang sangat singkat: 2 Jam!!; Dengan hasil cukuran yang bagus: Jauh dari model Marco Reus karena rambut saya porak-poranda layaknya lukisan abstrak yang dilukis oleh seniman stres. ASU we cuk!!!

Akhir-akhir ini kemauannya untuk membuka Barber Shop mulai mengendur, dia sempat mengeluh karena pekerjaanya yang membosankan membuatnya seperti ini. Dia pun kemudian mencari jalan keluar. Dengan sigap, Andre menemukan BritPop yang terkenal penuh solusi, tapi jancuknya dia gunakan lagu-lagu tersebut bukan untuk inspirasi guna memacu diri, melainkan untuk memotivasi dan terlihat jagoan wanita-wanita yang (siapa tahu) dia kagumi. Raisha tidak perlu itu kawan, Raisha hanya perlu ungkapan dari rasa cintamu.

Sebut saja saya sudah muak bercerita tentang Andre, dan saya akan mulai bercerita tentang Hehanusa.

Di tengah mundurnya proses cinta dan studi, saya berjalan lunglai menuju Café kampus, tempat dimana banya gadis cantik memamerkan keindahan dirinya dengan dandanan menornya – tidak semuanya seperti itu, kadang-kadang ada yang betul-betul cantik, bukan cantik karena dandanannya. Waktu itu saya ada janji untuk bertemu dengan Hehanusa. Dengan tampang bodoh dan kepala besarnya dia menyapa saya – kepala besar dalam arti sesungguhnya buka kiasan.

Kami pun mulai tenggelam dalam obrolan tak berguna. Obrolan kami tidak jauh dari Manchester United, tim yang menjadi pujaan kami berdua. Dengan bodohnya, kami menghitung secara rinci untuk meraih cita-cita kami menyaksikan United beraksi di Old Trafford. Di mulai dari lulus kuliah, kemudian meperoleh pekerjaan memungkinkan untuk kita memungkinkan mengumpulkan pundi-pundi uang yang bisa menjadi bekal ke Inggris nanti. Hebatnya! Kami berhasil menghitung biaya yang dibutuhkan untuk pergi ke Inggris dan perkiraan umur kita nanti sewaktu berhasil pergi ke sana. Harapan kami membuat jalan pikiran kami mengalir dengan b-i-j-a-k-s-a-n-a.

Persoalan cinta dan studi yang saya hadapi kemudian terbengkelai, betapa hebatnya kawan saya ini. Tanpa saya beritahu derita yang saya alami, dia berhasil membuat saya bahagia. Cocok jadi motivator handal.

Tapi…, saat ini hilang semua imajinasinya. Hehanusa mengalami kegagalan dalam kisah cintanya, kegagalan yang sekaligus membiarkan logika merenggut imajinasinya. Mungkin hanya mbak Selena Maria yang mampu menyelamatkannya. “Mbak mbok ditolong teman saya ini!”.

Hehanusa, sudah hampir dua tahun katam kuliah. Dia belum bekerja saat ini, tapi dia bilang sibuk. Saya kira dia sibuk mengurusi Selepannya yang tersohor itu. Mengembangkan teknologi yang dapat berpengaruh terhadap untung rugi. Saya ingin dia meraih penghargaan : Tahun 2014 Bapak Hehanusa didapuk sebagai ahli mesin selep karena berhasil membuat mesin selep touch screen dan tercanggih.

Ternyata arti sibuk menurut saya melentang dari arti menurutnya: Dia sibuk bermalas-malasan. Saya pernah beberapa kali bersamanya ketika dia patah hati. Saya pernah melihatnya memukul-mukul kemudi mobil yang sebetulnya tak bersalah karena cemburu; Saya pernah melihatnya keluar dari kegelapan taman kampus dengan isak tangis yang membuat saya tidak jadi kaget karena saya kira saya sedang masuk dalam sebuah kisah horor. Hal ini membuat saya tahu, bahwa dia hampir selalu tidak siap untuk patah hati. Badan dan kepala besarnya tak menolong jiwa melankolisnya. Mungkin malah menguatkan apa itu arti “kosong”.

“ Sepreine cuk, sing mbok gawe males-malesan we reti dikumbah ben kwe penak turune. Atimu kudune yo ngono kwi, dikumbah ben kwe pinter mikire. Nak kwe pinter mikir, dalan ning Old Trafford gampang kok, jomeneh dalan ning atine Selena Maria hahahaha “.

Saya terbangun dari lamunan saya, tersenyum simpul setelah itu.  Lamunan yang menyadarkan saya tentang dasi merah yang ingin saya pakai komplit berserta tetek-bengek yang membuat saya pantas satu langkah maju kedepan.

 

 

 

 

 

 

 

Bahagia Itu Tak selalu Sederhana

Konon, menurut Mite Sisifus karya Albert Camus, Sisifus adalah tokoh yang dikutuk oleh para dewa karena perangai buruknya. Tak tanggung-tanggung, kutukan terhadap Sisifus bersifat abadi.

Sisifus dikutuk untuk mendorong batu sampai ke puncak gunung. Namun, setiap hampir sampai puncak, batu itu kembali menggelinding ke bawah hingga ke titik awal, di mana Sisifus mulai mendorong batu tersebut. Begitu seterusnya, abadi: tidak akan pernah sampai puncak.

Hebatnya, Sisifus tidak pernah menyerah melakukannya, mendorong penuh kebahagiaan, berharap batu tersebut suatu saat mampu sampai puncak menyapa burung-burung yang terbang lalu lalang di sekitarnya. Singkatnya, Sisifus bahagia dengan kegagalannya.

Sisifus mengajarkan kita tentang pentingnya sebuah kebahagian yang mampu bekerja sama dengan kegagalan untuk menciptakan sebuah harapan. Meskipun harapannya terbentur dengan kegagalan yang bersifat abadi, Sisifus tetap mempunyai sebuah harapan. Jika kita berkaca pada apa yang dialami oleh Sisifus. Kita patut bersyukur: Kita bukan dirinya yang mengalami kutukan abadi; dan kita tidak tahu apa yang akan terjadi di akhir cerita nanti.

Menyitir pernyataan Haruki Murakami, “ Di mana ada harapan, di situ ada cobaan”. Tuhan menciptakan segala sesuatu dengan adil. Ketika Tuhan menciptakan “harapan”; Tuhan juga menciptakan “cobaan”. Sedangkan kebahagiaan adalah bagian dari proses. Tergantung pada kita  yang melakukannya.

Yang pasti jika kita bahagia menjalaninya, kegagalan tidak akan berarti karena kita selalu mempunyai harapan. Meskipun tak pasti, cobaan sering tunduk ramah dengan perlakuan seperti ini. 

James Thomas adalah Kebanggaan

Image

“Lawan, geramlah api yang hendak padam”, salah satu bunyi bait puisi dari Dylan Thomas. Tidak ada yang lebih terkenal daripada Dylan Thomas di kota kecil Swansea bagi kebanyakan masyarakat yang tinggal di luar kota tersebut. Puisi yang dia ciptakan bagaikan mantra yang kemudian menyebabkan banyak orang menyebut kata Swansea ketika membahas tentang Dylan Thomas. Singkatnya, Dylan Thomas-lah yang membuat Swansea menjadi terkenal. Anehnya, ketika menurut orang luar daerah  Dylan Thomas adalah Swansea dan Swansea adalah Dylan Thomas, masyarakat lokal mempunyai Thomas lain yang mereka anggap tak kalah berjasa dari Dylan Thomas.

Awan sedikit menyelimuti kota Swansea, matahari tampak masih bisa menikmati keindahan kota Swansea melalui jarak pandangnya. James Thomas duduk di pinggir sebuah lapangan yang sore itu permukaannya sedang dilukis abstrak oleh anak-anak yang sedang bermain bola. Thomas sedikit terasa lelah, mungkin dia bisa sedikit beristirahat menghilangkan penat di kepalanya setelah seharian mengawal mobil ambulan yang merupakan bagian tak terpisahkan darinya. Pada saat ini, Ambulan memang tidak dapat dipisahkan dari dirinya. Dengan melihat anak-anak ini bermain sepakbola, setidaknya mataku dapat melihat pemandangan selain pantat mobil dan pelat nomernya. Begitu pikirnya.

Yang terjadi kemudian, anak-anak tersebut justru membuat ia teringat kejadian sepuluh tahun lalu ketika dia masih aktif sebagai pemain sepakbola professional. Pada saat itu, Thomas adalah pemain Swansea setelah sempat menjadi pemain Blackburn Rovers. Thomas tidak menyesal meninggalkan Blackburn yang sejatinya berada di kasta yang lebih tinggi dari Swansea. Thomas adalah pria lokal sekaligus penggemar berat Swansea, Vecth Field adalah bagian dari masa kecilnya. Melihat John Toshack dari salah satu tribun dan hilanglah sudah rasa jengkel dimarahi guru karena salah dalam mengerjakan soal matematika di sekolah.

Sepuluh tahun lalu, Swansea City hanyalah penghuni kasta terendah Liga Profesional. Jika sampai terdegradasi, itu akan menjadi hal paling buruk bagi sebuah tim professional. Bermain di Liga Konferensi – iga setengah profesional dan setengah amatir – yang mungkin saja para pemainnya lebih ahli menjadi penjaga toko, memperbaiki mobil, dan membariskan kereta dorong di swalayan daripada bermain bola. Swansea tidak mau itu terjadi. Tetap menjadi bagian Liga Profesional adalah kewajiban.

Pada pekan terakhir, Swansea berada di zona degradasi dan kekalahan akan membuat mereka mengucapkan selamat tinggal pada Liga Profesional. Swansea akan menjamu Hull City pada pertandingan terakhir. Vetch Field yang berkapasitas 11.000 orang penuh sesak. Masyarakat yang tidak kebagian tempat di stadion tersebut memilih berada di Pub-Pub terdekat. Layar kaca di depan mereka bisa saja menjadi lebih penting dari apapun selama 90 menit kedepan.

Roberton Martinez siap memimpin rekan-rekannya di lapangan. Lingkaran kain di lengan kirinya dapat membuktikan bahwa dia memanglah seorang pemimpin. Leon Britton menjadi sorotan karena dia adalah pemain muda lulusan akedemi Lilleshall yang begitu ternama di Inggris. Banyak orang mengeritkan dahi ketika dia memilih dipinjamkan West Ham United ke Swansea dengan alasan ingin selalu menjadi pemain utama. James Thomas ???  dia hanya striker lokal berkemampuan biasa saja, tidak ada harapan lebih dari masyarakat selain gol darinya.

Bersamaan dengan dimulainya pertandingan, detak jantung tanda ketegangan para pendukung Swansea pun juga dimulai. Leon Britton dijatuhkan di kotak penalti. Wasit meniup peluit tanda pelanggaran. Muka tegang para pendukung Swansea sedikit berubah arah. James Thomas yang menjadi algojo dengan tenang merubah kedudukan menjadi 1-0 untuk keunggulan tuan rumah. Bahagia tapi belum pasti, kata penggemar Swansea dalam hatinya. Beberapa saat kemudian, Hull City berbalik unggul 2-1. Ini hanya halusinasi, tapi kenapa setelah saya mengedipkan mata, papan sekor menandakan bahwa ini adalah kenyataan, kata Thomas dalam hatinya. Thomas menjadi pahlawan Swansea setelah berhasil menyamakan kedudukan lagi-lagi melalui tendangan penalti. Luapan semangat yang nyaris padam dengan cekatan bangkit lagi. Saat Swansea berbalik unggul 3-2, Vetch Field bergemuruh, tapi tentu saja belum ada kepastian. “Waktu belum sampai ke menit 90, apakah pertandingan hari ini akan kita ceritakan ke anak cucu kita, belum dapat dipastikan”, seorang kakek tua berbicara dengan orang disebelahnya setelah gol tersebut.

James Thomas sepertinya memang ditakdirkan menjadi penentu nasib Swansea City. Menjelang akhir pertandingan, sentuhan bolanya yang ketiga mengakibatkan dirinya tinggal berhadapan dengan kiper. Dia sadar keputusan harus segera dibuat secepat mungkin. Dia bertanya dalam hati, wahai Cantona dan Li Tissier apa yang akan kalian lakukan dalam situasi seperti ini ?? tiba-tiba pertanyaan tersebut dijawab oleh nalurinya. Thomas melob bola melewati jangkauan kiper. Bola meluncur mulus masuk ke gawang. Vetch Field kali ini bergemuruh secara luar biasa. Hampir dapat dipastikan bahwa Swansea terhindar dari para tukang ledeng. Hanya keajaiban yang dapat mengalahkan Swansea. Keajaiban sendiri dengan jelas membantu Swansea pada saat itu. Tidak mungkin dia akan beralih ke pihak oposisi. Vetch Field seolah membantu para penggemar Swansea berteriak, “ James Thomas adalah pahlawan kami, anak turunan kami harus tahu itu. Sampai tujuh turunan pun harus tahu kalau James Thomas adalah pahlawan kami”.

Setelah pertandingan usai, para penggemar Swansea turun ke lapangan. Permukaan lapangan Vetch Field dengan senang hati menerimanya. Mereka merayakan kepastian bertahan di Liga Profesional layaknya menjadi Juara Liga Champion Eropa. “Hei,hei!”, suara anak kecil  menyadarkan Thomas dari lamunannya.” Maukah anda menandatangani jersey yang saya kenakan ini?” Tanya anak kecil itu. “tentu saja” jawab Thomas riang. Setelah meminta tanda tangan. Anak kecil tersebut berlari ke arah rekan-rekannya untuk melanjutkan  bermain sepakbola lagi, James Thomas berdiri, kemudian kembali ke mobil ambulan yang sudah lama menunggunya.

Generasi Dasyat dan Inbox

Beberapa waktu lalu , Seringai manggung di dekat tempat saya tinggal. Untuk pertama kalinya saya akan menyaksikan mereka secara langsung. Meskipun jadwal manggung mereka berbarengan dengan pertandingan sepakbola antara Timnas Indonesia melawan Timnas Belanda, saya memastikan akan tetap hadir menonton Seringai.

Saya tidak rela menyaksikan timnas bermain di kandang tanpa jersey merah putih kebanggaan kita karena alasan yang tidak logis dari timnas Belanda. Penjual jersey di Indonesia itu banyak, bukankah itu bisa menjadi solusi? Kalau jersey ori kemahalan, coba tawarkan saja ke mereka jersey KW atau grade ori. Saya yakin kalau wartawan Indonesia bertindak layaknya Agen FBI tidak akan ada orang tahu kalau timnas Belanda menggunakan jersey kelas dua. Selain masalah jersey, saya juga tidak ingin melihat supporter Indonesia ikut merayakan gol yang dicetak oleh Belanda. Alasan yang cukup bagus bagi saya untuk menghindari disebut “ tidak nasionalisme”.

Setelah sampai di venue, beberapa saat kemudian Seringai tampil. Saya sudah tidak sabar menunggu Arian berorasi melalui lirik-lirik tajam ala Seringai. Arian adalah salah satu dari sekian banyak orang yang menolak Undang-Undang Pornografi. Ia mempunyai ide, daripada dilarang dan dijerat hukuman bagi yang melanggar lebih baik kita diedukasi dengan membuat buku-buku literatur tentang pornografi. Dengan hal tersebut orang akan mendapatkan pengetahuan dan akan mengerti kenapa hal tersebut tidak boleh dilakukan. Cerdas!!

Malam itu Seringai tampil memuaskan meskipun tanpa Sammy Bramantyo  yang berhalangan hadir. Ia digantikan oleh basis Dead Vertical yang tak kalah apik. Yang membuat saya heran, tidak sedikit dari penonton yang berteriak;  Band apa ini? Lagunya ada yang lebih bagus ga? Lagu ga jelas, ganti reggae aja ? Pandir bukan?

Kenapa mereka datang ke venue kalau mereka tidak suka? Kalau mereka tokoh antagonis, kenapa mereka sebodoh itu? Apa mereka tidak kasihan sama Joker dalam film Batman? Ah sudahlah. Mungkin mereka merupakan “ generasi Dasyat dan Inbox” yang tidak mempunyai pilihan lain. Seperti seorang yang suka ngomong kalau sinetron itu sesat tapi tetap menontonnya.  Buat apa remot tv anda pegang?

TERIMAKASIH SIR ALEX FERGSON (FERGSON = FERGUSON ALA @EVILKAGAWA)

 

Saya memang tidak pernah bertemu dengannya, Saya pun tidak pernah mencoba masuk ke dalam lubang kelinci untuk bertemu dengannya. Tetapi, tidak ada sosok manusia yang masih bernafas yang begitu saya kagumi selain Sir Alex Ferguson.  Saya cuma tahu  Muhammad Ali adalah legenda tinju yang bergelimang prestasi, saya tidak tahuu manusia seperti apa Muhammad Ali itu. Tetapi begitu tahu bahwa ia mengaguminya, saya harus tahu Muhammad Ali sebagai manusia bukan hanya sebagai seorang legenda tinju.  Ali pernah dengan lantang menolak melakukan wajib militer karena agamanya tidak suka dengan perang. Berkacalah wahai ormas yang mengatas namakan agama ketika melaukan kerusuhan. Tindakan kalian mungkin lebih buruk daripada seorang hannibal yang melemparkan tombak ke sesamanya dengan dalil kelaparan. Meski mendapatkan kritik karena perilaku tersebut, Ali tidak bergeming, ia selalu memegang teguh prinsip yang diajarkan  oleh agamanya.

Ferguson selalu penuh semangat ketika membicarakan Muhammad Ali seperti halnya saya ketika membicarakan Ferguson, karena terlalu banyak pengaruhnya bagi kehidupan saya. Ketika ia mengumumkan bahwa musim depan dia akan berhenti mengunyah permen karet di pinggir lapangan, sejenak saya menghela nafas panjang dan mulai bertanya pada diri saya sendiri;  Darimana ia akan menginspirasi saya lagi ?

Dirinya akan jarang menampakkan diri lagi di kotak hitam seperti ketika pertama kali saya melihatnya. Pola berpikirnya pun tidak akan di ekspos oleh media lagi. Saya yakin, banyak orang yang juga  akan merindukannya. Tapi kita semau harus paham, bahwa ia sekarang sudah berusia 71 tahun, usia yang begitu tua untuk mulai bangun pagi membaca surat kabar di teras rumah sambil menyedu segelas teh, bersendau gurau dengan cucu-cucunya, dan mungkin berkeliling dunia dengan istrinya untuk mengunjungi tempat-tempat yang belum sempat ia kunjungi. Setidaknya ia ingin mengabulkan tentang cita-cita yang dibangun bersama istrinya selagi masih bisa bersama. Ia tidak ingin seperti kakek tua yang berusaha mengabulkan cita-cita istrinya yang sudah meninggal melalui beratus-ratus balon yang bisa menenrbangkan sebuah rumah. Sekali lagi, ia akan melakukan hal-hal tersebut di usia yang begitu tua. Cukup sudah ia menjadi Andi Dulfresne yang menginspirasi seluruh tahanan di penjara shawsank, sudah saatnya ia kabur dan mulai lagi membangun kehidupannya yang telah lama ia tinggalkan.

Saya selalu tersenyum simpul ketika ingat ia pernah menyebut para pengkritik Eric Catona karena tebasan mautnya sebagai orang yang dungu. Saya selalu termotifasi ketika ingat team talk-nya di Camp Nou yang membuat ia mengangkat trofi Champion League untuk pertama kalinya. Saya selalu penuh percaya diri ketika ingat kata-katanya bahwa tujuan utamanya menjadi manager Manchester United adalah menjungkalkan Liverpool dari singgasananya sebagai penguasa Liga Inggris. Cara bermain Manchester United memang belum bisa keluar sepenuhnya dari jaman batu. Ketika tim lain mulai bersenjatakan rudal, mereka masih menggunakan tombak.  Tapi lihatlah bagaimana ia membimbing pasukan bertombaknya menjungkalkan para jugador rudal. Tidak ada yang lebih hebat darinya dalam melakukan hal tersebut. Ia selalu mengajarkan agar tidak menyerah kepada keadaan karena keadaan lah yang seharusnya menyerah kepada kita. Layaknya semua orang yang menganggapnya berjasa dalam kehidupan. Saya ingin mengucapkan terimakasih kepadanya sekali terimakasih kepada Tuhan karena telah mengenalkan sosoknya kepada saya. Dia mungkin telah mati dalam sepakbola, tetapi dia masih hidup diluar sana dan begitu hidup di hati saya. Teluslah melangkah Sir Alex Ferguson.

Design a site like this with WordPress.com
Get started