Semakin banyak saya menyaksikan Serie A, semakin banyak pula saya ketahui tentang pentingnya sebuah “siasat”. Menurut saya, sepakbola Italia, merupakan tempat hiburan yang pas bagi otak, bukan mata.
Siasat yang penting di Serie A ini kemudian saya terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Hebatnya, saya melakukannya untuk menipu orang. Sahabat-sahabat saya sering terjebak siasat bodoh saya. Yang membuat saya heran : Mereka tidak merasa dijebak; kadang malah menikmati jebakan saya. Serie A ternyata lebih dari “siasat”; Serie A ternyata mengajarkan saya tentang sesuatu yang bernama “sahabat sejati”. Hebat!
Sebut saja Andre dan Hehanusa sebagai 2 orang sahabat saya, 2 orang yang paling sering saya tipu, tapi tetap menganggap saya sebagai seorang teman. Kebetulan kisah cinta mereka nyaris serupa. Lagu Croos Bottom yang berjudul 9 tahun, membuat mereka terlihat heroik di depan mata saya.
Andre sekarang bekerja di salah satu perusahaan yang bergelut di bidang finansial. Orang ini hebat, kadang mulutnya lebih cepat dari otaknya karena dagelan tak wajar selalu keluar dari mulutnya dalam waktu sesingkat-singkatnya. Kenapa hebat ? karena dia hampir selalu membuat saya tertawa hihi haha karena itu.
“Keluargaku no wis biasa gawe bahan ece-ecenan uwong”, suatu ketika Andre berkata seperti itu. Kata-kata yang mengajarkan kepada saya cara yang tepat untuk menertawakan diri sendiri. Dengan kenyataan seperti itu, tak heran kata-katanya sering ceplas-ceplos mengritik kegiatan orang-orang yang aneh dimatanya. Bukan semacam dendam, tapi semacam sarana untuk memerangi kenyataan yang kadang selalu menyakiti.
Andre bercita-cita membuka Barber Shop. Berbagai pengalam dia coba capai dalam bidang ini. Pernah saya pergi mengantarkannya ke Yogyakarta hanya untuk memangkas rambutnya. Pernah juga dia pergi ke Solo sendirian untuk melakukan hal yang sama. Skill dan teknik dia pelajari langsung dari orang yang memangkas rambutnya. Tapi sayang, untuk sementara hasilnya nihil. Do’a saya, semoga dia tidak putus asa, untuk kemudian berjualan sepatu New Balance yang sedang tenar-tenarnya.
Kenapa nihil ? pernah suatu ketika saya suruh Andre memangkas rambut saya. Saya kataka, “ potong gaya Marco Reus yo cuk”. Tanpa pikir panjang dia mulai memangkas rambut saya dan saya pun percaya pada kemampuannya. Belum genap 5 menit, kepercayaan saya meragu. Dia memangkas rambut saya dengan penuh kekerasan. Setiap alat cukur mengenai kepala saya, sakit rasanya. Kepala saya kemudia memerah, bukan karena malu, tapi karena hubungan tidak lumrah dengan alat cukurnya.
Berbarengan dengan keluarnya barongan pada Reog yang kebetulan sedang main di depan rumah saya, selesai sudah Andre memangkas rambut saya. Dalam waktu yang sangat singkat: 2 Jam!!; Dengan hasil cukuran yang bagus: Jauh dari model Marco Reus karena rambut saya porak-poranda layaknya lukisan abstrak yang dilukis oleh seniman stres. ASU we cuk!!!
Akhir-akhir ini kemauannya untuk membuka Barber Shop mulai mengendur, dia sempat mengeluh karena pekerjaanya yang membosankan membuatnya seperti ini. Dia pun kemudian mencari jalan keluar. Dengan sigap, Andre menemukan BritPop yang terkenal penuh solusi, tapi jancuknya dia gunakan lagu-lagu tersebut bukan untuk inspirasi guna memacu diri, melainkan untuk memotivasi dan terlihat jagoan wanita-wanita yang (siapa tahu) dia kagumi. Raisha tidak perlu itu kawan, Raisha hanya perlu ungkapan dari rasa cintamu.
Sebut saja saya sudah muak bercerita tentang Andre, dan saya akan mulai bercerita tentang Hehanusa.
Di tengah mundurnya proses cinta dan studi, saya berjalan lunglai menuju Café kampus, tempat dimana banya gadis cantik memamerkan keindahan dirinya dengan dandanan menornya – tidak semuanya seperti itu, kadang-kadang ada yang betul-betul cantik, bukan cantik karena dandanannya. Waktu itu saya ada janji untuk bertemu dengan Hehanusa. Dengan tampang bodoh dan kepala besarnya dia menyapa saya – kepala besar dalam arti sesungguhnya buka kiasan.
Kami pun mulai tenggelam dalam obrolan tak berguna. Obrolan kami tidak jauh dari Manchester United, tim yang menjadi pujaan kami berdua. Dengan bodohnya, kami menghitung secara rinci untuk meraih cita-cita kami menyaksikan United beraksi di Old Trafford. Di mulai dari lulus kuliah, kemudian meperoleh pekerjaan memungkinkan untuk kita memungkinkan mengumpulkan pundi-pundi uang yang bisa menjadi bekal ke Inggris nanti. Hebatnya! Kami berhasil menghitung biaya yang dibutuhkan untuk pergi ke Inggris dan perkiraan umur kita nanti sewaktu berhasil pergi ke sana. Harapan kami membuat jalan pikiran kami mengalir dengan b-i-j-a-k-s-a-n-a.
Persoalan cinta dan studi yang saya hadapi kemudian terbengkelai, betapa hebatnya kawan saya ini. Tanpa saya beritahu derita yang saya alami, dia berhasil membuat saya bahagia. Cocok jadi motivator handal.
Tapi…, saat ini hilang semua imajinasinya. Hehanusa mengalami kegagalan dalam kisah cintanya, kegagalan yang sekaligus membiarkan logika merenggut imajinasinya. Mungkin hanya mbak Selena Maria yang mampu menyelamatkannya. “Mbak mbok ditolong teman saya ini!”.
Hehanusa, sudah hampir dua tahun katam kuliah. Dia belum bekerja saat ini, tapi dia bilang sibuk. Saya kira dia sibuk mengurusi Selepannya yang tersohor itu. Mengembangkan teknologi yang dapat berpengaruh terhadap untung rugi. Saya ingin dia meraih penghargaan : Tahun 2014 Bapak Hehanusa didapuk sebagai ahli mesin selep karena berhasil membuat mesin selep touch screen dan tercanggih.
Ternyata arti sibuk menurut saya melentang dari arti menurutnya: Dia sibuk bermalas-malasan. Saya pernah beberapa kali bersamanya ketika dia patah hati. Saya pernah melihatnya memukul-mukul kemudi mobil yang sebetulnya tak bersalah karena cemburu; Saya pernah melihatnya keluar dari kegelapan taman kampus dengan isak tangis yang membuat saya tidak jadi kaget karena saya kira saya sedang masuk dalam sebuah kisah horor. Hal ini membuat saya tahu, bahwa dia hampir selalu tidak siap untuk patah hati. Badan dan kepala besarnya tak menolong jiwa melankolisnya. Mungkin malah menguatkan apa itu arti “kosong”.
“ Sepreine cuk, sing mbok gawe males-malesan we reti dikumbah ben kwe penak turune. Atimu kudune yo ngono kwi, dikumbah ben kwe pinter mikire. Nak kwe pinter mikir, dalan ning Old Trafford gampang kok, jomeneh dalan ning atine Selena Maria hahahaha “.
Saya terbangun dari lamunan saya, tersenyum simpul setelah itu. Lamunan yang menyadarkan saya tentang dasi merah yang ingin saya pakai komplit berserta tetek-bengek yang membuat saya pantas satu langkah maju kedepan.